Pindah Alamat Blog

Buat para pengunjung dan pembaca setia blog ini, silakan bisa berkunjung ke http://www.megadewanaputri.blogspot.com, tulisan-tulisan saya yang kece badai akan update di blog tersebut.

Terima kasih

MILITANSI

Orang yang militan adalah orang yang memiliki kekuatan yang luar biasa sehingga bisa istiqomah dalam amalannya. Ruh dari sebuah keistiqomahan adalah menjalankan sesuatu dengan sabar. Maka dari itu kita harus memiliki komitmen yang tinggi terhadap tujuan utama. Sebagai seorang muslim kita harus menjadi pribadi yang optimis, hilangkan kata menyerah. Jika lelah istirahatlah, namun jika malas lawanlah. Harusnya tidak ada lagi kekhawatiran dalam setiap kerja kita, karena Allah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya.

Ciri-Ciri Orang Militan:

  1. Berusaha merealisasikan apa yang sudah dia rencanakan, hal ini merupakan pembuktian dari komitmen diri.
  2. Selalu membekali dirinya dengan ilmu. Ilmu adalah landasan dalam beramal, landasan agar tidak rapuh, agar mata hati terbuka karena ilmu adalah cahaya.
  3. Memiliki tarbiyah dzatiyah yang kuat

Tanda-Tanda Turunnya Militansi:

  1. Mulai berkurangnya amal
  2. Pemakluman pada diri sendiri/ memanjakan diri dengan memberikan banyak kelonggaran (menunda pekerjaan)
  3. Mulai jahr-nya kemaksiatan
  4. Pemakluman terhadap maksiat yang kecil. Misalnya telat dalam melaksanakan shalat dengan alasan yang dibuat-buat.

Tidak ada maksiat yang terjadi secara spontan. Semua berawal dari kebiasaan. Karena kebiasaan yang terus menerus akan menyebabkan tidak bisa membedakan yang haq dan yang bathil.

Terapi Terhadap Lemahnya Militansi:

  1. Kembali terhadap pemahaman Islam yang Syumul. Sulit melakukan kebaikan itu karena terlalu banyak maksiat yang dilakukan. Karena kebaikan dan kemaksiatan tidak bisa berada dalam satu tempat. Kesatuan ucapan hati dan akal mengenai apa yang sudah kita pahami maka harus kita cerna→internalisasi.
  2. Memperbanyak amalan yang membuat kita dekat dengan Allah, karena Allah tidak pernah tidur.
  3. Memperbanyak tausiyah antar ikhwah. Saling mendapatkan dan memberi kebaikan. Sesungguhnya dengan memberikan tausiyah kepada orang lain berarti men-tausiyah diri kita pula.
  4. Tidak segan meng-iqob diri jika militansi menurun. Misalnya sulit menghafal mungkin dikarenakan terlalu banyak maksiat. Sesungguhnya umat mujahid itu tidak mengenal kecuali kesungguhan. Maka iman dan intelektualitas harus dipertanggungjawabkan karena muslim adalah pemberi teladan.
  5. Senantiasa memperbarui niat, agar niat senantiasa benar. Abdul Qadir Jaelani: Boleh jadi amal kecil dibesarkan oleh niat, amal besar dikecilkan oleh niat.

Oleh karena itu pandai-pandailah menangkap momentum/ ladang amal. Semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab.

Catatan lingkaran ilmu dan ukhuwah 12 Juli 2011.

Image

BAHAGIA ITU SEDERHANA

Rabu, 10 April 2013

Bahagia itu sederhana, seperti ikut suami ke kampus karena dia mau sidang skripsi jam 8. Terus ternyata nyampe kampus udah jam 07.40 dan kita berdua berlari-lari menuju lantai 4 sambil saya gendong Maahirah. Lumayan ngos-ngosan juga. Ya iyalah, tau sendiri bangunan IPB tu bentuknya segienam atau segiberapa sih. Nungguin suami sidang dan mojok sama Maahirah yang mulai rewel. Suami saya masuk ruang sidang jam 08.55 dan keluar jam 10.20, wew, cepet beut dah. Kata suami saya pertanyaan sidangnya nyrempet masalah rumah tangga dan bagaimana kami bisa ketemu. Ceile. Suit-suit (Ngibasin jilbab). Haha, jadi tersapu-sapu.

Tips gaol edisi kali ini:

Buat kalian yang akan sidang, bawalah istri dan anak kalian. Hal tersebut akan membantu meluluhkan hati para penguji. Hehe. Peace (^_^)V. (syarat dan ketentuan berlaku)

BAHAGIANYA MELAHIRKAN

Alhamdulillahhirabbil’alamin.

Segala puji hanya bagi Allah yang telah memperkenankan saya menjadi seorang ibu. Jum’at 22 Maret 2013 pukul 05.22 WIB lahirlah seorang bayi perempuan mungil nan cantik dari rahim saya, yang telah saya bawa kemana-mana selama 39 minggu, hehe. Sebenarnya HPL saya masih tanggal 29 Maret, tapi si dedek ternyata sudah tidak sabar mau keluar. Tau aja kalau bu bidan tanggal segitu lagi ada tugas ke Jogja🙂.

Setelah melahirkan banyak teman-teman saya yang sudah menikah, belum menikah, dan yang sedang hamil ingin sharing bagaimana sih rasanya melahirkan. Sakit atau bagaimana? Tentunya tiap ibu memiliki pengalaman yang berbeda-beda dalam merasakan sensasinya melahirkan. Tergantung juga, normal atau caesar. Kalau saya alhamdulillah normal.

Begini ceritanya..Kamis, 21 Maret 2013 pukul 01.00 WIB ibu mertua datang dari Sumedang. Pas mertua datang saya  ngobrol-ngobrol sejenak dengan beliau kemudian kami sama-sama istirahat. Saat subuh menjelang saya merasakan sakit yang tidak seperti biasanya di sekitar pinggang dan sakitnya gak ilang-ilang. Akhirnya saya memutuskan untuk sms Bu Niken (Kepala Sekolah PAUD SAsi), bahwa saya tidak bisa mengajar karena sakit pinggang.

Sekitar jam 9 tiba-tiba saya mengeluarkan bercak darah. Saya bertanya kepada mertua, apa ini tanda-tanda mau melahirkan. Mertua saya meng-iya-kan dan menyuruh saya dan suami untuk segera ke bidan. Dengan berjalan kaki kami berdua menuju rumah ibu bidan. Sesampai disana saya diperiksa. Kata Bidan Nita saya sudah pembukaan 1. Tapi antara pembukaan 1 sampai lengkap bisa 1 minggu bahkan 2 minggu, tergantung mulesnya. Bidan Nita menyarankan saya untuk banyak jalan kaki. Ya sudah, akhirnya saya pulang dulu ke rumah.

Siangnya saya mulai merasa mules, tapi belum sering. Ba’da Ashar saya ke sekolah (SAsi), muter-muter dari depan-belakang, naik di rumah pohon. Semakin sore rasanya semakin mules, ditahan-tahan sampai ba’da isya ke bidan lagi sambil agak tertatih (belum tertatih banget lho). Hasilnya, kata bidan Nita masih belum ada penambahan bukaan. Bisa dianggap bukaan 2 sih, tapi itupun kalau dipaksain. Akhirnya Bidan Nita memberi surat rujukan untuk USG karena saya memang belum USG sama sekali, yang penting untuk mengetahui jumlah ketuban dan kira-kira bayi saya bisa lolos panggul tidak, karena saya kan orangnya mungil. Tapi sembari menulis surat rujukan, Bidan Nita berkata “Biasanya kalau malemnya saya buat rujukan surat untuk USG, besoknya si bayi udah lahir pas belum sempet di USG”.  Hehe. Saya sih meng-amin-kan aja. Bukan-nya gak mau USG. Dulu udah pernah daftar, eh, taunya dokternya cowok. Ada satu lagi perempuan tapi Nasrani. Yaah, sama aja. Akhirnya sampai hari itu tiba-pun saya belum USG.

Setelah itu  kembali ke rumah, mengikuti saran dari Bidan Nita untuk langsung  istirahat. Tapi ternyata gak bisa tidur, cuma merem aja sambil merintih. Berdzikir, tarik nafas panjang dan kata Bu Bidan baca hasbunallah, serta surat Al Fill dalam satu kali tarikan nafas.

Jam 23.00 pas lagi tiduran saya merasakan ada suara seperti letusan kecil “tik” dari perut saya. Kemudian ada air keruh yang mengucur keluar namun tak lama kemudian berhenti. Saya bangunkan suami dan saya minta untuk menelpon bidan nita. Saya khawatir kalau yang keluar barusan adalah air ketuban. Pas telpon ke bidan nita, kata beliau kalau air ketuban warnanya bening dan akan mengucur terus, tidak berhenti. Ya sudah, saya tiduran lagi. Berprasangka baik bahwa yang keluar adalah lendir yang menyertai flek darah, meskipun gak sepenuhnya yakin karena merasa yang barusan adalah air.

Hari sudah masuk Jum’at 22 Maret pukul 01.00 saya sudah tidak tahan lagi dengan mules di perut saya. Mertua menyarankan untuk segera ke bidan saja. Langit masih benar-benar gelap dan jalanan sepi, saya dan suami menuju rumah bidan Nita.

Sesampai disana saya diperiksa lagi. Sudah bukaan 4. Tapi yang mengejutkan adalah kata Bidan Nita air ketuban saya sudah habis. Kering. Jadi yang keluar jam 23.00 tadi bener air ketuban. Karena saya bilang air yang mengucur berwarna keruh, bidan Nita merogoh lagi rahim saya. Saat tangannya keluar, nampak seperti lendir berwarna hitam agak hijau. Bidan Nita menggumam “Ini apa ya? kok seperti mekonium (eek bayi yang pertama kali keluar). Bidan Nita mulai ragu posisi bayi saya, sudah kepala belum yang dibawah. Tapi waktu kontrol terakhir kemarin beliau bilang kalau kepala sudah dibawah. Keraguannya muncul karena memang pas umur 6 bulan menuju 7 bulan posisi kepala bayi saya belum dibawah, jadi saya disarankan untuk banyak nungging dan senam hamil.

Bidan Nita masih meraba lendir hitam tersebut dan bertanya kepada suami saya. “Tidak ada keturunan kembar kan dalam keluarga?”.

Suami saya menjawab sambil memandang saya “Ada, dari keluarga ayahnya “.

“Wah, jangan-jangan ini kembar,” kata Bidan Nita. Saya yang mendengarnya jadi lemes. Mau ngeluarin satu aja susah kayak gini, apalagi dua.

“Harusnya kalau kembar ada sekatnya, ” bidan Nita meraba perut saya dan rahim saya. “Insyaallah satu kok ini, dan kepala sudah benar dibawah,,”sambung bidan Nita lagi.

Tentang E’e Kambing

Senin, 29 Oktober 2012. Hari pertama masuk sekolah setelah 3 hari kemarin liburan Idul Adha. Anak murid saya begitu antusias bercerita aktivitas libur mereka, terutama saat shalat Ied dan penyembelihan hewan kurban. Kebetulan anak-anak juga saya beri tugas WWP (Work With Parents). Semacam kliping tentang liburan. Ada foto mereka dan sedikit narasinya gitu, tapi pengerjaannya bebas, sesuai kreativitas anak dan orang tua. Di saat anak-anak sibuk saling memperlihatkan hasil karya mereka, salah seorang murid saya tiba-tiba bertanya. “Bu Mega, kenapa e’e kambing kecil-kecil?”. Terus terang saya antara kaget, pengen ketawa, tapi bingung mau menjawab apa (sambil garuk-garuk kepala). Nah, lho. Sodara-sodara ada yang tau jawabannya gak? Tapi kemudian si Akbar ini menjawab sendiri pertanyaannya. “Bu Mega, kambing itu pantatnya kecil. Jadi e’e nya juga kecil-kecil…… @_@

ImageIni Akbar. Wajah disamarkan

 

My Husband

Nama ikhwan ganteng ini Muhamad Saefudin. Biasa dipanggil Aep. Oleh adik tingkatnya biasa dipanggil Kak Aep, kalau lagi syuro selalu dipanggil Akh Aep, beda lagi kalau lagi dari kejauhan pasti semua orang memanggilnya “Ooooooooi”, hihihi.

Bagi saya Aep itu…

My first, my last, my everything..
And the answer to all my dreams..
You’re my sun, my moon, my guiding star..
My kind of wonderful, that’s what you are..

Hehe, itu mah iklan Bebelac yah. Saya ingin bercerita sekilas tentang suami saya ini. Beberapa info saya dapatkan dari ibu mertua saya saat mudik ke kampung halaman suami (Sumedang) lebaran lalu.

Kang Aep lahir di Sumedang, 27 April 1989. Masa kecilnya (termasuk pendidikan dari SD-SMA)  dihabiskan di sebuah desa lumayan pelosok yaitu desa Malaka, Kecamatan Situraja. Kata ibu mertua saya, dari kecil suami saya ini sudah menunjukkan bakat-bakat terpendam. Tentunya bukan bakat makan beling… jiaaaa itu kuda lumping sodara-sodara. Kang Aep kecil tuh kalau nemu kertas jatuh pasti gak akan langsung dibuang. Kang Aep akan membacanya dengan hati riang gembira. Siapa tahu ada kupon undian berhadiah. Lotre anak-anak yang dapet permen cicak itu hehe. Bukan, bukan, bukan. Kang Aep memang keingintahuannya besar sejak dia masih belia. Ceile.

Salah satu hal yang membuat ibu mertua saya “bangga” terhadap suami saya adalah, dari kecil suami saya rajin banget ngaji. Meskipun hujan gledek, suami saya akan tetap berangkat mengaji. Berjalan menelusuri jalan berbatu, melewati sawah-sawah. Tempat mengajinya lumayan jauh, beda desa pula. Tak sia-sia proses belajar mengajinya, suami sayapun pernah menjadi imam shalat tarawih di masjid dekat rumah atau tilawah di acara nikahan.

Selepas SMA suami saya berkesempatan melanjutkan studi di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB).  Si doski mengambil Jurusan Teknik Pertanian, Departemen Teknik Mesin dan Biosistem. Yang mungkin banyak berhubungan dengan traktor-traktor kali ya, hihihi.

Secara akademik, suami saya berada dalam posisi standar. Sama seperti saya. Medium. Gak terlalu pinter tapi juga gak terlalu terbelakang, hehe. Alhamdulillah.

Saya dan suami memiliki kesamaan. Meskipun sama-sama berada pada kecerdasan medium kami mempunyai misi untuk tetap bermanfaat. Sampaikan ilmu walau satu ayat. Nah, saya kan saat kuliah sering banget jadi asisten praktikum, kira-kira ada sekitar 5 mata kuliah yang saya asisteni. sedangkan suami saya mendedikasikan diri sebagai pengajar bimbel. Pernah ngajar di bimbel Nurul Fikri, Kharisma Prestasi, dan bimbel di kampus. Sepsialisasinya ke pelajaran Matematika atau Fisika. T_T. Beratttttt.

Menurut saya Aep itu…

Cerdas, tekun, ulet, sabar, lucu

Suami saya juga suka blogging. Sama seperti saya. Mampir aja ke Muhamad Saefudin. 

O,ya suami saya pernah memiliki usaha Insan Buku. Jualan buku-buku gitu lah. Bersama temannya yang bernama Awang Darmawan. Kalau mau lihat webnya silahkan kunjungi www.insanbuku.com. Sekarang sih lagi di-hibernasi-kan. Tapi yang mau pesen buku bisa juga. Masih menerima pesanan. Hehe.

Karir suami saya di kampus cukup banyak. Antara lain sebagai

  • Koordinator Divisi Eksternal Perhimpunan Mahasiswa Peduli (PMP) Balumbang Jaya
  • Ketua Rohani Islam (ROHIS) Departemen Teknik Pertanian, Fateta, IPB
  • Ketua Lembaga Dakwah Fakultas Forum Bina Islami (FBI) Fateta, IPB
  • Ketua Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Inayah

Bicara soal prestasi juga ada beberapa. Suami saya berkali-kali mendapatkan beasiswa PPA. Tahun pertamanya di kampus terpilih sebagai Putra Penggerak Penghijauan Asrama Putra Tingkat Persiapan Bersama (TPB) IPB. Hehe. Mbayangin suami pakai selempang dengan tulisan Putra Penggerak Penghijauan Asrama Putra TPB 2007, sambil pegang piala dan dadah-dadah, melambaikan tangan pada para penggemar yang sudah setia mengirimkan sms. Jiaaaaaaaaa. Nggak segitunya kali. Karena suami saya pinter ngaji alhamdulillah juga pernah mendapatkan Juara III MTQ Cabang Musabaqah Fajmul Quran IV IPB tahun 2009. Hiks. Lebih terharu lagi saat akad nikah dengan saya, suami tasmi’ QS Al Mulk buat saya. Jadi makin sayang T_T.

Si doski tuh selalu bisa membuat saya jatuh cinta. Banyak hal yang dia lakukan, yang mungkin baginya adalah hal biasa, namun bagi saya adalah hal luar biasa. Jadinya saya jatuh cinta berkali-kali sama si doski….. aaaaaaaaa.

Sayang banget sama Muhamad Saefudin… Kushi, kushi, kushi mo^_^mo…..

Forever, by Westlife

I’ll be loving you forever
Deep inside my heart you leave me never
Even if you took my heart
And tore it apart
I would love you still, forever
You are the sun
You are my light
And you’re the last thing on my mind, before I go to sleep at night
You’re always round
When I’m in need
When troubles on my mind
You put my soul at ease

There is no one in this world
Who can love me like you do
That is the reason that I
Wanna spend forever with you

We’ve had a fun
We’ve made mistakes
But who’d have guessed along that road
we’d learn to give and take
It’s so much more than I could have dreamed
‘Cause you’ve make loving you, so easy for me

‘Cause this is the world, where lovers often go astray
But if we learn each other, we won’t go that way
So put your doubts aside
Do what it takes to make it right
I love you, forever, no-one can tear us apart

Bekasi, 30 September 2012

 

NGGOMBAL

Boleh nggak ya? Tentu saja boleh. Terutama bagi anda pasangan muda yang sedang dihujani bunga-bunga asmara, ceile. Dalam konteks ini yang sudah menikah lho yaaaa. Eh kalau dalam bahasa Jawa, gombal itu artinya lap yang udah kotor banget atau butut. Hihi.

Menggombal  merupakan salah satu cara ampuh untuk membina hubungan rumah tangga. Ya sebagai selingan lah. Biar lebih harmonis dan cihuy.

Menggombal hendaknya dilakukan dalam durasi yang tidak sering tapi juga tidak jarang. Nah lho, piye kuwi. Ya, sesuai kebutuhan. Melihat situasi dan kondisi. Hindari waktu yang tidak tepat. Misalnya saat pasangan anda lagi nguras bak mandi kemudian anda mengeluarkan kata-kata gombal. Sekali-kali jangan. Pilihan waktu yang cihuy misalnya saat lagi makan bareng, nonton tipi bareng atau lagi santai bareng.

Ini adalah salah satu contoh gombal yang simpel. Bisa dilakukan saat pagi-pagi santai bareng. Model diperagakan oleh saya dan suami.

Aep : Hari ini kamu libur ya?

Mega : Iyaaaa

Aep: Oh gitu. Tapi kamu  tidak libur kan mencintaiku ? (sambil senyum senyum)

Mega : Aaaaaaaaaaa (nutupin wajah pake bantal)

Nah, simpel kan gombalannya. Jika anda ingin belajar gombal. Belajarlah pada Andre dan Sule atau Pak Tarno. Tolong dibantu yaaak. Bim salabim jadi apa prok-prok-prok. Salam cihuy.