PROSPEK TANAMAN KEPUH (Sterculia foetida L.) SEBAGAI SUMBER BIOFUEL

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Agroindustri

Disusun oleh :

Martha Kusumanigtyas                     H0107016

Mega Dewana Putri                           H0107018

Mudita Oktorina Nugrahani  H0107019

Estri Noviana                                     H0107047

Yeni Dwi Susanti                                H0107097

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2010

PENDAHULUAN

Kepoh atau disebut juga Pranajiwa dalam bahasa latin disebut Sterculia foetida Linn. merupakan salah satu spesies tanaman di Indonesia yang berasal dari Afrika Timur, Asia Tropik dan Australia. Tanaman ini berupa pohon yang cukup besar dengan tinggi mencapai 30 meter. Tanaman Kepoh dapat tumbuh dengan cepat dan merupakan spesies yang setiap bagian organ tubuhnya banyak bermanfaat bagi kehidupan manusia. Di beberapa daerah di Jawa Tengah, tanaman kepoh hanya dijumpai ditempat-tempat yang dianggap keramat seperti kuburan, punden (kuburan atau sumber air atau tempat yang dikeramatkan), sehingga masyarakat mengenalnya sebagai tanaman keramat. Buah kepoh yang bentuknya cukup unik yaitu terdiri dari 5 benjolan (lokus) cukup besar dengan berat kurang lebih 1 – 3 kg sering masyarakat menamakan sebagai buah ”Genderuwo”. Biji-biji kepoh dibiarkan jatuh dan tidak dimanfaatkan secara optimal karena banyak orang yang takut untuk memanfaatkannya.
Sebenarnya tanaman Kepoh sudah dikenal masyarakat terutama di Jawa tengah dan jawa Barat karena tanaman ini telah lama dimanfaatkan sebagai tanaman yang berkhasiat obat.

Semua bagian tanaman dari kulit batang, daun atau buah dan bijinya sering dimanfaatkan sebagai campuran jamu. Kulit pohon dan daun dapat digunakan sebagai obat untuk beberapa penyakit antara lain rheumatic, diuretic, dan diaphoretic. Kulit buah Kepoh juga dapat digunakan sebagai bahan ramuan untuk membuat kue dan bijinya dapat dimakan. Kayu pohonnya dapat digunakan sebagai konstruksi bangunan rumah, bahan pembuat kapal, kotak kontainer, dan kertas pulp. Biji kepoh mengandung minyak nabati yang terdiri atas asam lemak yaitu asam sterkulat yang berumus molekul C19H34O2. Asam lemak ini dapat digunakan sebagai ramuan berbagai produk industri seperti kosmetik, sabun, shampoo, pelembut kain, cat, dan plastik. Asam lemak minyak Kepoh juga dapat digunakan sebagai zat adaptif biodiesel yang memiliki titik tuang 18oC menjadi 11,25oC. Daun kepuh mengandung kalsium sampai dengan 2,66% dan juga merupakan sumber protein yang baik dan fosfor, memenuhi kebutuhan gizi ruminansia. Makan kernel mengandung protein kasar sekitar 31%. Serat: Kabel terbuat dari serat kulit. Kayu: kayu ini kelabu-putih dan lembut tapi lebih sulit daripada spesies lain kebanyakan dari genus. Gum atau resin: Sebuah permen yang menyerupai ‘tragacanth permen karet’, diperoleh dari batang dan cabang dan digunakan untuk tujuan penjilid dan yang sejenis.

PROSPEK PENGEMBANGAN TANAMAN KEPOH SEBAGAI BIOFUEL

Minyak bumi merupakan sumber energi yang tidak terbarukan. Peningkatan penggunaan bahan bakar mengakibatkan persediaan minyak bumi semakin menipis, sehingga jika sumber-sumber baru tidak ditemukan maka dalam waktu yang tidak terlalu lama minyak bumi harus diimpor. Hal ini dapat secara drastis menurunkan persediaan minyak dunia sehingga perlu dilakukan alternatif sebagai solusi atas permasalahan tersebut. Pemanfaatan pohon kepuh (Sterculia foetida L.) baru terbatas pada kayunya, sedangkan buah, daun dan bijinya belum banyak dimanfaatkan.

Peningkatan pertumbuhan ekonomi serta populasi dengan segala aktivitasnya akan meningkatkan kebutuhan energi di semua sektor pengguna energi. Konsumsi energi final meningkat dari 221,33 juta Setara Barel Minyak (SBM) pada tahun 1990 menjadi 489,01 juta SBM pada tahun 2003 atau meningkat sebesar 6,3% per tahun. Berdasarkan jenis energinya, konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan konsumsi energi final terbesar. Pada tahun 2003 konsumsi BBM sebesar 329 juta SBM (67,7%), Bahan Bakar Gas (BBG) sebesar 63 juta SBM (13,0%), listrik sebesar 55 juta SBM (11,3%), batubara sebesar 31 juta SBM (6,4%), dan LPG sebesar 8 juta SBM (1,6%). Sebagian besar konsumsi BBM digunakan untuk sektor transportasi.

Peningkatan kebutuhan energi tersebut harus didukung adanya pasokan energi jangka panjang secara berkesinambungan, terintegrasi, dan ramah lingkungan. Pasokan energi diusahakan berasal dari sumber energi dalam negeri dan dari impor dari negara lain apabila pasokan energi dalam negeri tidak mencukupi. Mengingat potensi sumberdaya minyak bumi dan kemampuan kapasitas kilang di dalam negeri yang terbatas maka perlu dicarikan bahan bakar alternatif untuk substitusi BBM.

Sejalan dengan permasalahan tersebut, pemerintah melalui Peraturan Presiden No.5 Tahun 2006 telah mengeluarkan kebijakan energi nasional. Kebijakan ini bertujuan untuk mewujudkan keamanan pasokan energi dalam negeri. Kebijakan utama meliputi penyediaan energi yang optimal, pemanfaatan energi yang efisien, penetapan harga energi ke arah harga keekonomian dan pelestarian lingkungan. Kebijakan utama tersebut didukung dengan pengembangan infrastruktur, kemitraan dunia usaha, pemberdayaan masyarakat dan pengembangan penelitian. Kebijakan energi nasional ini juga memuat upaya untuk melakukan diversifikasi dalam pemanfaatan energi. Usaha diversifikasi ini ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya Instruksi Presiden No.1 Tahun 2006 tentang penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati (biofuel) sebagai bahan bakar lain. Dalam mendukung kebijakan ini pemerintah juga mengeluarkan Blueprint Pengelolaan Energi Nasional.

Pengembangan dalam pemanfaatan biofuel menjadi lebih menarik dengan semakin meningkatnya harga minyak mentah dunia yang mencapai US$70 per barel pada akhir tahun 2005. Berdasarkan road map biofuel pada Blueprint Pengelolaan Energi Nasional ditargetkan Indonesia mampu mensubstitusi minyak solar dengan biodiesel sebanyak 2% pada tahun 2010, 3% tahun 2015 dan 5% tahun 2025 serta mensubstitusi bensin dengan bioethanol (gasohol) sebanyak 2% pada tahun 2010, 3% tahun 2015 dan 5% tahun 2025. Biofuel yang sudah dikembangkan sebagai substitusi BBM saat ini adalah biodiesel dan bioethanol. Biodiesel dapat diperoleh dari esterifikasi minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil – CPO) atau minyak jarak sedangkan hidrolisa dan fermentasi ubi kayu menghasilkan bioethanol. Biodiesel selain mempunyai keunggulan dari sisi penyediaan yang merupakan sumber yang dapat diperbaharui, juga merupakan bahan bakar yang relatif bersih dari emisi bahan pencemar. Perkembangan konsumsi energi final untuk sektor transportasi, sektor rumah tangga (termasuk komersial) dan sektor industri dari tahun 1990 sampai dengan tahun 2003 ditunjukkan pada Gambar 2. Pada tahun 1990 besarnya konsumsi energi final di sektor industri mencapai sebesar 84 juta SBM kemudian disusul sektor transportasi sebesar 80 juta SBM dan sektor rumah tangga sebesar 58 juta SBM. Sedangkan dari pangsa konsumsi energi maka sektor industri merupakan sektor pengguna energi terbesar yaitu sekitar 38% diikuti oleh sektor transportasi (36%) dan sektor rumah tangga (26%). Pada tahun 2003 konsumsi energi final di sektor industri meningkat rata-rata sebesar 6% per tahun atau menjadi 188 juta SBM, konsumsi di sektor transportasi naik rata- rata sebesar 7% per tahun atau menjadi 186 juta SBM, sedangkan di sektor rumah tangga meningkat rata-rata sebesar 5% per tahun atau menjadi 115 juta SBM.

Perkembangan konsumsi energi final per jenis energi di Indonesia dari tahun 1990 sampai dengan tahun 2003 ditunjukkan pada Gambar 3. Konsumsi BBM pada tahun 1990 mempunyai pangsa yang paling tinggi yaitu sebesar 76% diikuti oleh BBG (10%), listrik (8%), batubara (4%) dan pangsa yang paling kecil adalah LPG (1%). Pada tahun 2003 meskipun pangsa konsusmsi BBM masih paling besar tetapi sudah berkurang menjadi 67%. Kemudian diikuti oleh BBG (13%), listrik (11%), batubara (6%) dan LPG (2%). Pertumbuhan konsumsi batubara dan LPG paling besar yaitu sekitar 10% per tahun diikuti oleh pertumbuhan konsumsi listrik (9% per tahun), BBG (8% per tahun), dan BBM hanya tumbuh sekitar 5% per tahun.

Prospek Pemanfaatan Biofuel

Penggunaan biofuel dapat langsung berupa 100% biofuel murni maupun dalam bentuk campuran dengan komposisi tertentu. Penggunaan biodiesel murni (100% biodiesel murni) sering disingkat dengan nama B100. Penggunaan dalam bentuk campuran, misalnya B5 merupakan campuran 5% biodiesel dengan 95% minyak solar. Setiap negara mempunyai kebijakan tertentu dalam memberikan batas ijin pencampuran biodiesel dengan minyak solar. Amerika Serikat mengijinkan pencampuran hingga 20%, sedangkan di Eropa saat ini baru mengijinkan hingga 5%. Di Indonesia, Direktorat Jenderal Migas dengan masukan dari Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM), Gabungan Pengusaha Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dan mempertimbangkan peraturan yang berlaku di World Wide Fuel Charter (WWFC) mengusulkan pencampuran biodiesel hingga 5%, sedangkan Forum Biodiesel Indonesia (FBI) mengusulkan komposisi campuran yang lebih besar minimal hingga 10%.

Sebagian besar kendaraan bensin dapat dijalankan dengan menggunakan bahan bakar ethanol 10% yang dicampur dengan bensin 90% (BE10) tanpa melakukan modifikasi mesin. Sekarang ini, banyak pabrik mobil sudah mengembangkan mobil yang dapat beroperasi dengan kandungan ethanol lebih tinggi, yaitu BE85 (ethanol 85% dan bensin 15%). Mobil yang dapat berjalan dengan bahan bakar BE85 tersebut sering diberi nama Flexible Fuel Vehicles (FFV). Ford, GM, Chrysler, Mazda, Isuzu, dan Mercedes sudah menyediakan sekitar 20 model kendaraan jenis mobil dan truk yang mampu menggunakan campuran bensin dengan ethanol sampai 85% tanpa modifikasi. Sekitar tiga juta kendaraan FFV sudah beroperasi dan sekitar 240 buah Stasiun Pengisisan Bahan Bakar Umum (SPBU) di Amerika Serikat sekarang menawarkan E85.

Kasus Dasar

Biofuel baik berupa biodiesel maupun bioethanol belum dapat bersaing dengan BBM. Tanpa ada kebijakan pemerintah yang mendorong penggunaan biofuel, maka minyak solar dan bensin akan tetap mendominasi pemakaian energi di sektor transportasi hingga akhir periode studi. Pemanfaatan BBM di sektor transportasi di Indonesia dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2025 diperkirakan meningkat rata-rata sekitar 6% per tahun.

Pada umumnya minyak solar dan bensin banyak dimanfaatkan pada sektor transportasi darat, minyak bakar lebih diutamakan untuk memenuhi kebutuhan transportasi laut atau sungai, sedangkan avtur dimanfaatkan di sektor transportasi udara. Prakiraan pemakaian energi final di sektor transportasi per jenis energi ditunjukkan pada Gambar 4. Pada tahun 2003 pangsa penggunaan bensin paling besar yaitu sebesar 49% diikuti oleh minyak solar (44%), avtur (6%), dan minyak bakar (1%). Penggunaan BBG meningkat sedikit demi sedikit mulai tahun 2005. Penggunaan energi di sektor transportasi meningkat dari sekitar 165 juta SBM pada tahun 2003 menjadi 488 juta SBM pada tahun 2025. Penggunaan minyak solar dan bensin masih mendominasi selama periode tersebut dan tidak ada kenaikan yang signifikan dalam penggunaan minyak bakar.

Dengan harga minyak mentah sebesar 40 US$/barel, teknologi transportasi berbasis minyak solar dan bensin ternyata masih tetap lebih ekonomis dibanding dengan BBG, apalagi dibandingkan dengan menggunakan biodiesel atau bioethanol. Biaya pemanfaatan biodiesel dan bioethanol masih lebih tinggi dibanding bahan bakar konvensional. Pemanfaatan BBG di kendaraan umum, khususnya taksi diperkirakan merupakan opsi yang cukup menarik, mengingat taksi mempunyai jarak tempuh per hari yang cukup panjang. Untuk memberi gambaran yang lebih rinci pada Gambar 5 ditampilkan prakiraan pemakaian energi bermanfaat per jenis kendaraan di Jawa. Untuk luar Jawa tidak ditampilkan karena jenis kendaraan yang digunakan sedikit sehingga tidak merepresentasikan adanya substitusi antar teknologi untuk jangka panjang.

Pemanfaatan biodiesel dan bioethanol terus meningkat hingga pada tahun 2025 mencapai 47 juta SBM untuk biodiesel dan 103 juta SBM untuk bioethanol, sehingga kenaikan penggunaan minyak solar dan bensin di sektor ini dari tahun 2003 hingga tahun 2025 relatif kecil. Penggunaan minyak solar meningkat dari sebesar 72 juta SBM pada tahun 2003 menjadi 82 juta SBM pada tahun 2025 dan penggunaan bensin meningkat dari 81 juta SBM pada tahun 2003 menjadi 114 juta SBM pada tahun 2025. Pemakaian avtur yang tidak dapat digantikan oleh bahan bakar lain relatif tetap pertumbuhannya yaitu sekitar 6.8 % per tahun. Selain biodiesel dan bioethanol, diperkirakan BBG juga dapat bersaing dengan minyak solar dan bensin, sehingga pada tahun 2025 kontribusi BBG di sektor transportasi meningkat menjadi 20.6 % terhadap total pemakaian energi di sektor transportasi.

Peluang untuk pemanfaatan kepuh sebagai biodiesel sangat besar. Hal ini diperkuat dengan potensi biji kepuh yang mempunyai efisiensi lebih tinggi untuk pembuatan bio diesel karena kandungan minyaknya lebih dari 50%.

Biji kepoh secara umum mengandung beberapa jenis asam lemak. Dari daging bijinya dapat dibuat minyak yang mengandung sebagian besar asam sterkulat, serta sebagian kecil terdiri dari asam oleat, asam linoleat, asam palmitat dan asam miristat serta asam lemak jenuh lainnya dalam jumlah relatif sedikit           (Varma, 1956).

Rangkuman minyak kepoh foetida telah ditemukan mengandung 71,8% asam sterculic dan proporsi asam oleat kecil, linoleat, dan jenuh. Komponen jenuh sebagian besar terdiri dari asam miristat dan palmitat, minyak terdiri dari jejak tristearin (0,8%) dan kuantitas utama tristerculin (31,4%) bersama-sama dengan jumlah yang berbeda dari jenis yang glycerides GS2U, GSU2, dan GU3 asam lemak lainnya

TEKNIK BUDIDAYA

Klasifikasi

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Dilleniidae
Ordo : Malvales
Famili : Sterculiaceae
Genus : Sterculia
Spesies : Sterculia foetida L.

Deskripsi : Pohon yang tumbuh cepat dengan tinggi ± 35 m. Batang besar dengan diameter ± 120 cm. Batang/kayunya berwarna putih keruh, ringan, permukaan batang kasar. Bentuk daun berbagi menjari, bundar telur sampai lanset dan meruncing ke ujung. Bunga terdapat di ujung batang/ranting, pada awalnya bunga berwarna kuning keabuan kemudian menjadi merah. Buah mempunyai kulit yang tebal dan keras, warna merah hitam. Setiap buah mempunyai 10 – 17 biji.

Kepoh foetida adalah, besar lurus, pohon berganti daun tumbuh di ketinggian 40 m dan 3 m girth, dengan cabang diatur dalam whorls dan penyebaran horizontal. Kulit halus dan abu-abu.Daun penuh sesak di ujung branchlets, digitate, dengan 7-9 leaflet; selebaran berbentuk bulat panjang atau elips-berbentuk pisau pembedah, acuminate, 10-17 cm, tidak lama petioluled, dengan bau yang tidak enak; tangkai daun panjang 12,5-23 cm. Bunga dalam malai banyak, subterminal, 10-15 cm; agak besar, hijau atau ungu kusam; lobus berkelamin tunggal, dengan bunga jantan dan betina di pohon-pohon yang terpisah; kusam kelopak, berwarna oranye, sangat 5-partite; 1-1,3 cm. folikel merah, 7,6-9 cm x 5, sangat kokoh, akhirnya kayu; biji 10-15, abu-berwarna, elipsoid, oblong, 1,5-1,8 cm dengan dasar kuning kulit biji-bijian. Nama generik didasarkan pada stercus kata Latin ”, yang berarti ‘kotoran’, yang mengacu pada bau bunga-bunga dan daun dari beberapa spesies. Sifat berbau busuk dari pohon ditekankan dalam nama spesies, “foetida ‘, yang berarti’ busuk ‘. 

Kepuh berasal dari Afrika Timur ke utara Australia, foetida S. tumbuh bebas di Myanmar dan Sri Lanka. Distribusi geografis  Asli: Australia, Bangladesh, Djibouti, Eritrea, Ethiopia, India, Indonesia, Kenya, Malaysia, Myanmar, Oman, Pakistan, Filipina, Somalia, Sri Lanka, Tanzania, Thailand, Uganda, Yaman, Republik, Zanzibar. Penyebaran di Indonesia hanya terdapat di Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura dan di pulau-pulau karang di laut Jawa.

Habitat tumbuh tanaman Kepuh di dataran rendah sampai ketinggian ± 500 m dpl. Tidak ada spesifikasi tanah tertentu untuk tanaman Kepuh, tapi mungkin membutuhkan tanah dengan kelembaban yang cukup bagi perkembangan optimal. Untuk perbanyakan tanaman ini belum pernah dijumpai budidaya kepuh di Indonesia. Umumnya ditanam beberapa pohon saja di pojok pekarangan atau di pagar kebun.

Di India, daun baru muncul di bulan Maret-April setelah berbunga. Bunga-bunga yang memiliki bau pengap muncul dalam bulan Maret ketika pohon itu berdaun. Buah matang pada Februari berikutnya, hampir 11 bulan setelah munculnya bunga 1. Metode Propagasi S. foetida mudah dibangkitkan dari benih, bibit yang tumbuh pesat dan membentuk taproots panjang. Mereka dapat ditanam keluar selama 1 hujan tanpa banyak kesulitan. Namun, bibit tidak akan berdiri dingin, misalnya di India utara. Biji tanaman kepuh merupakan benih ortodoks jadi tidak mempunyai masalah dalam hal penyimpanan. Setiap 1 kg berat terdapat ± 635 biji.

Hama dan penyakit

Di India, S. foetida menderita buruk dari larva balteata Sylepta. kematian yang sangat tinggi di bibitan. Selama makan, larva, dengan bantuan benang sutra, roti dan berputar atas daun dan pakan di atasnya. Setelah makan pergi jaringan infus, larva bergerak ke bagian lain dari daun untuk makan. Kejadian OPT bervariasi dari 70

DAFTAR PUSTAKA

­­­­­­­­­Anonim. 2010. Kepuh. http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/j-kim-4-1-6.pdf. Diakses tanggal 1 April 2010

_______. 2010. Hama Penyakit Pada Kepuh. http://www.plantamor.com/index.php?plant=1195. Diakses tanggal 1 April 2010.

_______. 2010. Kepuh (Sterculia foetida). http://www.plantamor.com/index.php. Diakses tanggal 1 April 2010.

______­_. 2010. Ringkasan Hasil-Hasil Penelitian Kepuh. http://www.dephut.go.id/files/. Diakses tanggal 6 April 2010.

_______.2010. Budidaya Kepuh. http://padasuatuketika.blogspot.com. Diakses tanggal 1 April 2010.

_______.2010. Pemanfaatan Kepuh. http://padasuatuketika.blogspot.com

_______.2010.Detail Data Sterculia foetida.http://www.proseanet.org/prohati2/browser.php?docsid=288. Diakses tanggal 1 April 2010.

_______.Prospek Kepuh. http://www.worldagroforestrycentre.org/Sea/Products. Diakses tanggal 1 April 2010.

_______2010.Prospek Kepuh. http://sapetro.indonetwork.co.id/1139393/sterculia-foetida-kepoh-kepuh.htm. Diakses tanggal 1 April 2010.

Heidelberg. 1957. Komposisi minyak biji kepoh foetida, Linn Jurnal Masyarakat Kimiawan Minyak Amerika. Penerbit Springer Berlin Volume 34:9 September, 1957

Sugiyono, Agus. 2005. Pemanfaatan Biofuel Dalam Penyediaan Energi Nasional Jangka Panjang. Seminar Nasional untuk Negeri 2005.  PTPSE – BPPT

Suheri. 2009.Kepuh Rubuh.http://padasuatuketika.blogspot.com/2009/10/kepoh-rubuh-aset-desa-sumber.html. Diakses tanggal 1 April 2010.

Varma, J.P., Sharda, D., Bhola, N., and Aggarwal, J.S., 1956. Composition of the seed oil of sterculia foetida Linn, J. Am. Chem. Soc. 452-454, 1558-9331

Yuniastuti. 2009. Kepuh sebagai biofuel (bio-oil). http://yuniastuti.staff.uns.ac.id/2009/08/31/kepuh/. Diakses tanggal 1 April 2010.

Kesanmu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: