AKU, DIRIMU, DIRINYA, DIRI KITA SEMUA


Walaupun satu keluarga kami tak saling mengenal

Himpunlah daun-daun yang berhamburan ini

Hidupkanlah lagi ajaran saling mencintai

Ajari kami berkhidmat seperti dulu

(Anis Matta)

Kawan, pernahkah kalian mengira bahwasanya kita akan dipertemukan olehNya? Dalam suatu episode “spesial” yang absurd, heroik, abnormal, sotoy, ganjil…. Hm… terlalu berlebihan ya?

Awalnya saya sempat berpikir yang tidak-tidak bagaimana bisa menjalani hidup selama sebulan lebih bersama teman-teman magang di Parung Farm, apalagi se-kos tak hanya dengan teman-teman UNS, tapi juga UNILA, IPB, UMY. Wah, mantap sekali. But let it flow lah….. dan jeng-jeng…. Tak disangka ternyata kami semua menikmati dunia kami, mungkin kami yang lain. Ya, ibarat menguak sisi lain selebriti, hehe… apaan sih. Berikut ini adalah nukilan, mozaik, atau lebih gampangnya septong episode masa lalu aku, sebuah kisah klasik kita untuk masa depan…. (hiyaaaaaaaaaaaaa)

Maaf kalau gak urut dan agak didramatisasi, mencoba mengingat-ingat yang telah terjadi. Apabila ada kesamaan nama, tokoh, binatang peliharaan, tingkah laku, tempat, waktu dan kejadian ya dimaklumin aja, memang disengaja biar tambah asoy, namanya juga curcollllllll….

Episode 5 Agustus 2010

Judul: Aku, Dirimu, Dirinya, Diri Kita Semua

Lokasi: Sekitar Kampus Darmaga IPB

Pemain:

Muhamad Saefudin sebagai Aep (Teknik Pertanian, Fateta IPB 07)

Anthony Thaufan Muhammad sebagai Nthon (Agrobisnis, Faperta UNS 07)

Dhea Karina Putri sebagai Dhea (Agrobisnis, Faperta UNS 07)

Nurul Fadlillah sebagai Lala (Agrobisnis, Faperta UNS 07)

Mega Dewana Putri sebagai Saya (Agronomi, Faperta UNS 07)

Figuran: Sopir angkot dan crew, MABA IPB, Pramuniaga Kopma IPB, Crew Rumah Makan Teh Dahlia

Alat dan Bahan: Ayam sebagai Korban, Lalapan, Piring dan Seperangkat Alat Makan, Cabai dan rekan-rekan sebagai Sambal.

Cara Kerja : ??? Bukan lagi praktikum kali….

Begini ceritanya,

Sore ini saya, Lala dan Anthony nganterin Dhea untuk ngambil laptop-nya yang sedang “sakit” di Darmaga, tepatnya di Acer Center. Ini baru pengalaman pertama saya ke Darmaga, soalnya kemarin waktu service Dhea ditemani Anthony dan Lala, sedangkan pada saat tersebut saya, Wira dan Tunjung menggantikan tugas Dhea dan Lala di bagian Packing. Menggantikan dan lembur tepatnya. Mantap dah, di packing sampai jam 16.30, dan kali ini saya ikut nimbrung ke Darmaga. Awas aja kalo gak diajak, Anthony pasti bakal kecewa karena gak bisa poto-poto. Ternyata menuju kampus Darmaga itu sangat luar biasa, tak akan terlupa. Dari Parung tuh harus ganti angkot sampai 3 kali, welah. Selain terkenal dengan sebutan kota hujan ternyata saya baru tahu kalo Bogor juga dijuluki dengan kota 1000 angkot, he’em, sepakat. Angkotnya euy, gak nahan, kayak semut. Ada yang bilang juga kalo Bogor tu hijau karena angkotnya, hihi. Padahal ada juga angkot yang warnanya biru terus tulisannya putih-putih melati alibaba…Singkat cerita Dhea udah bisa ngambil laptopnya di Acer Center, intinya laptopnya telah sembuh (kalo ceritanya kelamaan jadi kayak sinetron). yang perlu pembaca ketahui adalah jangan bayangkan Acer Center itu gedhe, kayak yang di Mall, bukan, sama sekali bukan. Tempat tersebut hanyalah kios kecil di pinggir jalan utama Darmaga.

Kemudian setelah kejadian mengambil laptop tersebut kami kembali melanjutkan perjalanan ke kampus IPB untuk jmenunaikan shalat Ashar. Perjalanan kami diiringi hujan yang rintik-rintik dan daun-daun berguguran (backsound: tik,tik, tik, bunyi hujan diatas genting). Wah, kampus IPB rame bener, lagi OSPEK. Yang saya heran kok masih ada para MABA/MARU disuruh kuncir rambut pake pita warna warni, kostum ini itu, pokoknya yang aneh-aneh. Kalo di UNS mah kayak gituan gak boleh. Tapi salut untuk MABA IPB, semangat nyanyi-nya itu lho amazing banget. Kebetulan saat itu sedang nungguin Lala, dan Dhea shalat di salah satu gedung di lantai 2 kalo gak salah. Adik-adik MABA yang saya lihat di depan Sekretariat HIMAGRON suaranya menggelegar sampai musholla. Kayaknya yel-yel mereka dibikin medley, non stop, kekuatan penuh, semua bersemangat, ciaaaaaatttttt (lho), sampai ketika saya, Dhea, dan Lala turun dari lantai 2 setelah shalat ashar-pun MABA yang di depan sekre HIMAGRON tadi masih nyanyi-nyanyi dengan girangnya. Mantep amat ni batrenya gak abis-abis.

Anthony sudah menunggu di bawah, ternyata dia sedang memotret MABA yang sedang menjalani peristiwa OSPEK tersebut. Kami berempat lalu berjalan sepanjang jalan kubangan (hehe, hujan sih) dan masih menyempatkan diri untuk poto-poto di seberang Graha Wisuda. Sip, walau Cuma 4 kali jepretan. Kasian tar kameranya masuk angin kalo kelamaan kehujanan. Setelah poto-poto sebentar di seberang graha wisuda saya, Lala, Dhea dan Anthony melanjutkan lagi perjalanan ke kopma IPB. Niatnya beli gantungan kunci kayak punya Lala, Dhea dan Anthony. Lumayan jauh juga tuh dari dalam kampus harus keluar untuk menuju kopma atau kompleks agrimart kalo gak salah. Jauh dah pokoknya, perasaan gak abis-abis tu jalan. Sepanjang jalan banyak pedagang, kanan kiri, pokoknya mantep dah, apalagi makanannya juga banyak. Coba kalo di UNS ada kayak gini, hehe.

Alhamdulillah dengan kondisi agak basah dan gemetaran akhirnya sampai juga. Komplek Agrimart udah banyak yang tutup, maklum sudah sore, sekitar jam 5-an. Untung aja Kopma yang bagian jual marchandaise IPB (Green Co) belum tutup. Saya yang berjalan agak di belakang sempat mendengar Lala atau Dhea (saya lupa) yang berkata “Eh, ada Aep”. Merasa tak percaya dengan ucapan tersebut saya mencoba untuk memastikan dan ketika saya melongok ke dalam Green Co (Kopma IPB) ternyata memang benar disitu ada sesosok orang yang selama ini disebut-sebut sebagai kembaran Wira Hadinata dalam kisah IPIN UPIN edisi dunia lain yaitu teman magang kami Muhamad Saefudin atau nama samarannya adalah Aep, ya Aep. Kami sama-sama kaget. Tapi melihat saya, Dhea, Lala dan Anthony yang datang si Aep lebih terkejut, terkesima, terpana, terpesona (adegan slow motion, wajah Aep di Close-Up seakan berkata “Apa” disertai backsound: jeng,jeng dengan irama yang menggetarkan kemudian disusul lagu Yovie n The Nuno, Aku, dirimu, dirinya, tak akan pernah mengerti tentang suratan…uwo…aye). Mahasiswa Teknik Pertanian IPB tersebut bener-bener kaget, yakin dah, ekspresinya itu lho, tidak bisa dilukiskan, terlalu ruwet. Jika diibaratkan dan dituliskan dalam rumus matematika, fisika dan kimia, ekspresinya Aep dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut,                    Aep=3xy+13,375ab-log107x:200Cx4,5Newton:60Ω-H20+C6H12O6=Bingung. Ternyata Aep tertangkap basah oleh kami, maklum habis kehujanan, hehe. Aep pada saat itu sedang memilih-milih gantungan kunci untuk  kami gitu, anak-anak magang Parung Farm. Kan ceritanya minggu depannya yang UNS udah pulang dan semua juga sudah hampir selesai (kecuali Amel dan adik-adik SMK Bawen). Gimana gak salting si Aep, pasti kan dia niatnya mau bikin surprais untuk teman-temannya. Eh, malah ketahuan. Padahal kami sama sekali gak janjian apalagi memberitahu bahwa kami mau maen ke Darmaga. Kampus IPB segedhe gitu dan ketemunya di Green Co. Subhanallah, dunia memang sempit. Kalau Allah menghendaki bertemu pasti akan ketemu apapun caranya. Mau ngumpet di kolong semut pun kalo udah jalan dan waktunya ketemu si Aep ya pasti ketemu. Tapi karena saya, Lala, Dhea dan Anthony adalah teman yang baik maka pada saat itu kami pura-pura gak tahu kalo Aep sedang beli gantungan kunci untuk kami semua. Aep sepertinya sudah panas dingin melihat polah tingkah kami dan kami mencoba menghiburnya dengan banyolan-banyolan gak jelas. Niatnya menghibur tapi mungkin si Aep tertekan dan berharap hal ini tak akan terulang lagi (kalo yang ini didramatisasi). NB: Pada waktu itu diiringi siaran radio tentang bagaimana memilih istri sholehah (???)

Langit masih menaburkan butir-butir bening yang jatuh satu demi satu ke bumi

Wajahnya mulai menghitam tanda petang datang

Setelah selesai belanja di Green Co, kami berlima masih bingung memutuskan kemana. Maghrib masih lumayan lama. Si Anthony sudah mangap-mangap tanpa suara namun sudah dapat ditebak dia mengatakan “Maem”, hehe….

Kami berlima kemudian hujan-hujanan sambil berlari-lari kecil melintasi sepanjang kompleks kios. Mampir sebentar untuk membeli brownies kukus dan melanjutkan pengembaraan untuk mengisi perut. Bagi saya, Lala, Dhea dan Anthony makan dimana aja terserah yang penting makan, makan, makan. Kali ini manut sama Aep, diajak kemanapun ngikut dah. Ternyata Aep itu terkenal, artis gitu. Sepanjang perjalanan menuju warung makan, si Aep banyak disapa. Meskipun banyak penggemarnya si Aep tetap zuhud, rajin, hemat, cerdas cermat, cepat tepat, tajam dan terpercaya seperti Liputan 6 (lebay lagi).

Akhirnya, sampai juga kami di warung makan. Namanya warung makan Teh Dahlia dengan menu spesial Ayam Kribo. Sepakat berlima pesen Ayam Kribo semua, biar kribo (enggak lah). Aep emang baik, memilihkan warung makan dimana yang akhwat bisa sekalian shalat disitu (Maaf, saya pakai kata dimana. Kalau kata Pak Darmodjo mah gak boleh, itu ejaan ala orde baru). Kemudian kami makan. Yang lucu tu sambalnya ditaruh di gelas, ibarat jus cabe. Banyak amat sambelnya. Ayam kribo-nya enak loh…. Siapa dulu, Aep Tea yang ngajak. Maknyus pokoke. Sebenarnya Ayam Kribo yang dimaksud hampir mirip seperti Ayam Kremes di Solo. Bedanya tuh Kribo alias Kremesnya kalo di Rumah Makan Teh Dahlia lebih tebal, warnanya lebih cerah dan motifnya lebih jelas. Ayam Kribo masih saudaraan sama Ayam Kremes Solo. Jadi ayam Kribo dan Ayam Kremes itu bersaudara. Saudaranya Ayam Kribo berarti saudaranya Ayam Kremes juga. Ayam Kribo punya saudara yaitu Ayam Kremes. Wadew, bagaimana ini saudara-saudara.

Berikut hasil rekaman saat di warung makan Teh Dahlia

Saya : (Pegang kamera)

Anthony : ya, selamat datang di Ayam Kribo… Ayam Kribo mana ini? (menoleh ke Aep)

Aep: (menelan nasi) Teh Dahlia

Anthony: Teh Dahlia,hihi, disini bisa dilihat ayamnya masih mongah-mongah ini..hahaha.. dan moprol-moprol ini..hihi… dan ini bisa disyut… ini namanya timun, ya… ini ni nha, kobis…bisa dilihat ini apa ini, oh sambel…cara makannya seperti ini, perhatikan ya.. harus heboh.. harus heboh… pokoknya (Anthony kemudian memotong ayam dengan garpu dan menyendok nasi) set.. set..set (sambil menggerakan sendok kekanan, kekiri, kedepan, kebelakang) nah kita rasakan (mengunyah nasi dan ayam)…hmmm… maknyus… hihihi

Saya: Kok jadi bukan kayak Pak Bondan, kayak Benu Buloe

Anthony: Oh, Benu Buloe, hihi. Yah, sudah cukup liputan kali ini bersama saya,tetap semangat tetap sehat diacara…. Acara apa ya (menoleh ke Aep lagi) … di acara timun oke…(goyang-goyang kepala).

Saya : (mengarahkan kamera ke Aep) Aep.. makan ep

Aep: (tersenyum) Makan

Saya: (kamera ke Lala)Lala …

Lala : (menganggukkan kepala) Makan

Saya: (mengarahkan kamera ke Dhea)

Dhea: (sambil terus makan) Halo Bu’, enak sekali ini rekomendasinya saudara Aep, ayam kribo, gak tau nanti gimana kalo direbonding…

Saya: (kamera ke Aep)

Aep: Jadi Ayam Kribo ini menu andalan rumah makan Teh Dahlia (wajah Aep di Close-up)

Saya, Lala, Dhea, Anthony: oooo

Saya: uwis ah,,, aku ra mangan2 (mematikan kamera)

Selesai makan masih cerita-cerita. Karena Aep tadi tak masuk magang, kami berbaik hati menceritakan kejadian-kejadian saat magang, terutama kejadian yang tak terlupakan dalam sepanjang perjalanan hidup seorang mahasiswa UNILA yang mengaku-ngaku putra SBY, yaitu Koko Pujianto. Sebanyak 2x Koko dicuekin oleh Pak Dibyo di kelas timer. Kasihan. Namun apa daya, Koko sudah tak tertolong lagi. Hiks.T_T

Masih dalam acara ngobrol-ngobrol mata saya tertuju pada sendok dan garpu berukuran besar yang dipasang di tembok. Kemudian saya bilang ke Anthony, “nThong, jane kowe mau maem nganggo sendok karo garpu sing kae”, kata saya sambil menunjuk ke tembok di belakang Anthony. Anthony pun menoleh kebelakang, “ He’em ki, apik-apik,kata Anthony sambil tertawa hi..hi..hi” (bayangkan sendiri style Anthony). Tiba-tiba Aep yang ikut-ikutan noleh ke belakang untuk melihat sendok dan garpu berukuran besar tersebut-pun tertawa terpingkal-pingkal. Gak biasanya. Ternyata Aep mbayangin nyuapin Anthony pake sendok segedhe itu.

Sudah maghrib, Anthony dan Aep pergi ke masjid. Sementara saya, Lala dan Dhea still dirumah makan Teh Dahlia dan shalat.

Tiga puluh menit berlalu, Aep dan Anthony datang lagi. Sekalian saya, Lala, Dhea dan Anthony pamit pulang ke kost. Menunggu angkot ditemani Aep di depan warung makan Teh Dahlia yang murah meriah. Tak lama angkotpun datang. Satu persatu kami masuk ke angkot. Sebenarnya sudah merencanakan menculik Aep tapi gak jadi, hehe. Padahal Anthony sudah menarik-narik tangannya Aep. Kamipun dadah-dadah ke Aep. Aep pun dadah-dadah ke kami. Angkot melaju meninggalkan Darmaga. Samar-samar masih terlihat Aep yang makin lama makin mengecil sampai tak terlihat lagi, udah gelap soalnya. Yah, itu tadi sebuah pertemuan spesial yang tak terduga. Bagi kami pertemuan tersebut merupakan rencanaNya yang indah yang kita tak akan bisa mengira bagaimana kita dapat dipertemukan dan sekarangpun kita dipisahkan kembali. Semoga persahabatan diantara kita akan tetap berlanjut sampai ke negeri surga. Amin.

Aku, dirimu, dirinya

Tak akan pernah mengerti, tentang suratan

(Yovie n The Nuno).

Disini kita pernah bertemu

Mencari warna seindah pelangi

Ketika kau mengulurkan tanganmu

Membawaku ke daerah yang baru

Dan hidupku kini ceria…

Kini dengarkanlah

Dendangan lagu tanda ingat aku

Kepadamu teman agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu

Kenangan bersamamu tak kan kulupa

Walau badai datang melanda walau bercerai jasad dan nyawa

Mengapa kita ditemukan

Dan akhirnya kita dipisahkan

Mungkinkah menguji kesetiaan

Kejujuran kemanisan iman

Tuhan berikan aku kekuatan

Mungkinkah kita terlupa, Tuhan ada janjiNya

Bertemu berpisah kita adalah rahmat dan kasihNya

Andai ini ujian terangilah taman kesabaran

Pergilah derita hadirlah cahaya…

(BROTHERS, Untukmu Teman)

Saya persembahkan bagi teman-teman yang telah menjadi keluarga selama Magang/Kerja Praktek di Parung Farm Bogor: Dhea Karina Putri, Nurul Fadlillah, Achmad Haryanto, Anthony Thaufan Muhammad, Muhammad Nasir Rosyidi, Tunjung Adi Permana, mas Anjar Setiawan (UNS), Wira Hadinata, Koko Pujianto (UNILA), kak Dimas Juliansyah Abubakar, Muhamad Saefudin, Sepriyadi Rihi (IPB), Amalia Maratus Sholihah (UMY), Amier, Abi, Ken Prasa (SMK Bawen).

2 Tanggapan

  1. hahaha jadi ke inget….

    sweet memory kebersamaan kita bersama teman-teman parung farm….

Kesanmu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: