MENGURUS SESUATU


Kisah ini menceritakan  tentang 2 orang mahasiswi yang tak lain dan tak bukan adalah saya sendiri dan Fairuz.

Langsung jaya, eh, langsung saja ya. Siang tadi, diiringi gerimis dan tik,tik,tik bunyi hujan di atas genting, airnya turun tidak terkira, saya dan Fairuz dengan niat tulus ikhlas dan penuh pengharapan menuju sebuah gedung yang terletak di kampus bagian belakang.

Kami menaiki tangga, menuju lantai 2 dan masuk ke sebuah ruangan. Saya celingak-celinguk mencari sosok bapak yang kemarin kami temui untuk “Mengurus sesuatu”. Bapaknya tidak ada. Terus kami ditanya oleh orang-orang yang ada di kantor tersebut. “Mau ngapain, mbak?”.

Saya dan Fairuz menjawab, “ Mau Mengurus Sesuatu”. Akhirnya kami dipanggil oleh seorang bapak yang duduk di pojokan. “Mbak, duduk sini, ambil kursi,”kata bapak itu. Adegan setelah ini saya sensor karena merupakan sesuatu hal yang memilukan  bagi kami. Hehe, gak ding. Tar kalo diceritain jadi lama. Penasaran? Ya udah. Saya kasih tau dikiiiiiiiit aja ya. Adegan ini berdurasi sekitar 45 menit. Saya dan Fairuz mendapat tausiyah dan diperlihatkan satu bendel kertas yang banyak lingkaran di berbagai sudut dengan berbagai diameter. Lingkaran tersebut tidak semuanya lingkaran, tapi ada yang oval, sehingga dapat digunakan untuk membersihkan wajah anda setelah seharian beraktivitas. Hiyaaaa. Saya dan Fairuz hanya mengangguk-angguk dan sesekali berkata “iya”.

Akhirnya tausiyah-pun usai. Kami keluar dari ruangan tersebut dengan hati yang nano-nano. Ketika menuruni tangga si Fairuz udah mulai mewek.”Hu… Hu….”begitulah bunyinya. Yang saya lakukan adalah merangkul pundaknya dan berkata “Sudahlah”. Keluar dari gedung itu dengan langkah kaki terseok-seok.  Dalam benak saya yang terpikirkan adalah saya harus kuat. Kudu kuat. Ciaaaattt.

“Mbak, ke sekre dulu yuk,” ajak Fairuz masih dengan wajah memelas, hehe.

“ Kenapa? Mau cari orang buat menumpahkan perasaan habis dapat tausiyah ya,” kata saya sambil tersenyum-senyum dan tersanjung. Lho?

“Iya,”kata Fairuz

“Okey, Yuk”, saya meng-iya-kan.

Sampai di sekre yang ada hanya Amirul Mukminin wal mukminah, hehe. Dia bertanya kepada saya “Mbak, gimana itunya, bisa gak, bla,bla, bla, bla, bla……”. Waduh ni anak, baru saja saya nyampe sekre langsung ditanya hal kayak gitu. Belum juga sempat duduk, hmhmhm.

Sambil memeluk tiang sekre diiringi lagu kuch-kuch hota hai (halah) saya menjawab “Dhek, saya butuh waktu, kenapa kamu mengatakan hal itu, rasanya terlalu cepat bagi saya,……. Hiyaaaa….padahal…..

Fairuz sudah ngesot di lantai. Saya pegang tangannya. Masyaallah dingin. Maklum, dapat tausiyah dan langsung merasuk ke dalam jiwa. Akhirnya kami bertiga mengobrol  kian kemari. Saya dan Fairuz sedikit memberikan tips-tips “Mengurus sesuatu” kepada Amirul. Si Fairuz masih truwelu, eh, terharu lagi dan memanggil-manggil “Mas Tataaaaaaang, Mas Tri……mreneo…… “. Saya tahu bahwa hal ini berat bagi Fairuz di usianya yang masih belia, cup-cup adekku.

“Mbak, sms-kan Mas Tatang dan Mas Tri, suruh mereka ke sini sekarang pokoknya kalau longgar. Kalau nggak longgar tolong dilonggarkan,” kata Fairuz.

Saya gak tega melihat Fairuz menanggung beban yang berat. Halah. Dan akhirnya saya meng-sms Tatang dan Tri Hariyana.

“ Pak Tatang dan Pak Tri kalau longgar dimohon segera ke sekre sekarang, kalau tidak longgar tolong di longgarkan. Fairuz butuh penenangan.”

Balesan Tri : “ Emang Fairuz kenapa?”

Saya : “ Hehe, kami berdua baru saja mendapat tausiyah”.                                                           

Tak lama kemudian, bagaikan Gundala si Putra Petir, Tri Hariyana datang secepat kilat. Wow.

“Fairuz kenapa? “, Tanya Tri.

Kami berdua menceitakan perihal tausiyah yang kami dapat ketika sedang “Mengurus sesuatu”. Lagi asik-asik nya cerita. Tiba-tiba Amirul nyeletuk, “Mas, mbak, ada lowongan buat jadi masinis, caranya buka www, bla,bla, bla, bla…….

“Apa dhek? Masinis?,” Tanya saya.

“Iya,”jawab Amirul

“Masa’ aku disuruh jadi Masinis? Ya tak itung biaya penyusutannya ntar, harus hemat, bla, bla, bla,”kata Tri. Hadeuh, sempat-sempatnya mikir kayak gitu. Bagaimana kalau yang jadi Bendahara-nya Tri Hariyana saja, hehehehe…..

Lha itu juga si Amirul juga nyela pembicaraan pada waktu yang tidak tepat plus gak ada hubungannya dengan Topik Hidayat ataupun Topik Kiemas, eh, topik pembicaraan maksud saya.

Akhirnya Fairuz sudah agak tenang setelah bercerita pada Bapak semang-nya alias Tri Hariyana.

“Daripada pusing-pusing, kita beli cilok yuk,” ajak Tri.

Whuaaaaaa, saya mau banget. Tapi ternyata memang lidah tak bertulang. Gak jadi beli cilok. Tri udah ada janji dengan seseorang.

Itu tadi sedikit cerita tentang “Mengurus sesuatu”. Oleh karena itu saya himbau kepada kawan-kawan agar lebih serius dan persiapan mental maupun spiritual dalam “Mengurus sesuatu”.

Okey. Tetap sehat, tetap semangat, tetap hemat.

Mozaik 22 Februari 2011, Solo

Wisma QQ Tungga Dewi, Lantai 2 No 19

20:09 WIB

NB: Ternyata Angga, Woro, dan Heru juga pernah bermasalah dalam “Mengurus Sesuatu”.

 

 

Kesanmu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: