MEMBANGUN TRADISI TAFAQQUH FIDDIN


Bismillah, sedikit berbagi ilmu, semoga bermanfaat ya. Mumpung Ramadhan, pahala besar-besaran, mari kita berbagi walaupun 1 ayat. Sebelum melanjutkan membaca diluruskan dulu niatnya (^_^). By the way apa maksudnya judul di atas? Yang bisa silahkan angkat besi, eh, angkat kaki, bukan-bukan, maksud saya angkat tangan, nah lho salah lagi, kalau angkat tangan nanti kayak penjahat ketangkep polisi. Apa ya, tunjuk tangan, hm, bukan juga, karena tunjuk tangan berarti kita menunjuk tangan. Pusing kan? Iya, saya juga pusing. Insyaallah yang ini bener deh, silahkan acungkan tangan, hehe. Gitu aja repot @_@.

Ya, itu yang dipojokan lagi angkat tangan, oh ternyata gak jadi, hanya garuk-garuk kepala. Paling depan sendiri itu kenapa tangannya melambai-lambai? Ada tukang bakso lewat ternyata saudara-saudara. Abang tukang  bakso mari-mari sini, saya mau beli, jeng, jeng, jeng. Afwan sedikit selingan dari sponsor.

Kembali ke judul. Saya bukan orang yang bisa bahasa arab tapi bisa ngaji, hihi. Kalau yang saya tau dan berdasarkan yang saya dapat bahwa Tafaqquh berasal dari kata Faqih yang berarti ahli dan Fiddin berarti  dalam hal agama. Jadi Tafaqquh Fiddin artinya ahli dalam hal agama (insyaallah, untuk teman-teman yang lebih tau mohon dibenarkan ya).

Dalam hal ini membangun tradisi tafaqquh fiddin adalah bagaimana kita kembali membangun dan meningkatkan pemahaman kita dalam hal agama. Karena apa? Karena orang pintar itu sulit dicari. Bukan dukun atau orang pintar yang minum t*lak ang*n lho. Tapi orang yang paham tentang agama. Apalagi kita generasi muslim muda. Kalau diitung pakai kalkulator dengan rumus ax=2by+log 10-5%:20x√32,5 yang hasilnya tentu saja saya gak mudheng (kalkulator eror), intinya secara kuantitas banyak tapi apakah sebanding dengan kualitas?

Kita generasi ke berapa setelah Rasulullah ya? (Hmmm, merem sambil mikir, lama-lama tidur). Kita memang tidak bisa menyamai generasi didikan Rasulullah. Tapi paling tidak kita punya semangat untuk terus menimba ilmu.

“Kebaikan itu dari kebiasaan, keburukan itu dari pemaksaan dan barangsiapa dikehendaki Allah mendapatkan kebaikan, maka Dia (Allah) akan menjadikannya paham tentang agama (HR. At Thabrani dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan).

Pada dasarnya manusia itu dapat menerima kebaikan dan menolak keburukan. Muslim itu identik dengan kebaikan. So, usahakan semua yang kita lakukan adalah bernilai kebaikan. Mulai dari hal-hal kecil. Salah satu kunci untuk menolak keburukan adalah memiliki pemahaman yang benar dan mendalam tentang agama kita, islam tentunya.  Setelah kita belajar dan paham jangan lupa untuk  disampaikan. Wah, kalau ini bisa juga dibahas di materi urgensi tholabul ‘ilmi (^_^)v.

Kembali kepada hadits di atas. Hikmah yang dapat di ambil dari hadits tersebut adalah:

  1. Kebaikan bagi seseorang mukmin adalah kebiasaan

             Kandungan :

  • Seorang mukmin bisa menerima kebaikan tanpa ada penolakan sama sekali
  • Untuk menanamkan dan menumbuhkembangkan kebaikan pada seorang mukmin dibutuhkan pembiasaan
  • Kebaikan mudah menjadi kebiasaan bagi setiap mukmin

   2. Keburukan bagi seorang mukmin adalah pemaksaan

              Kandungan :

  • Ada penolakan dari seorang mukmin terhadap keburukan yang disuguhkan kepadanya

            Keterangan: Bisa dibaca juga tentang kisah Ka’ab bin Malik yang absen dari perang Tabuk.

  • Menunjukkan bahwa keburukan itu dilakukan ketika keimanan seseorang sedang raib dan keburukan ini akan semakin dominan dengan melemahkan hati dan jiwanya

            Keterangan: Oleh karena itu ingat “Malu”. Tidak ada kemaksiatan yang dilakukan sedangkan orang itu dalam keadaan baik iman-nya. Sekali lagi kita harus punya rasa “malu” untuk melakukan maksiat karena malu adalah cabang dari keimanan.

  • Bahwa seorang mukmin ketika melakukan keburukan seringkali karena dorongan jahat dari luar yang terus menerus merayunya untuk melakukan perbuatan dosa dan maksiat.

           Keterangan:  Contohnya kisah nenek moyang kita Nabi Adam AS yang dikeluarkan dari surga karena tergoda untuk memakan buah khuldi.

   3. Agar pemahaman menjadi indikasi kebaikan

                  Kandungan:

  • Ilmu dan pemahaman akan mengantarkan seseorang kepada kedudukan yang hakiki. Baca QS Fathir: 28
  • Ilmu dan pemahaman akan mengundang berbagai kebaiakn yang melimpah. Baca QS Al Baqarah: 269
  • Ilmu dan pemahaman adalah cahaya kehidupan dan hati
  • Pemahaman adalah pilar penopang agama
  • Pemahaman akan mengantarkan kepada surga

Bagaimana membangun budaya Tafaqquh Fiddin?

1. Menyusun rencana kegiatan

Bikin time schedule, target, tapi yang realistis lho ya (^_^)v

2. Mengetahui pedoman Tafaqquh Fiddin

a. Kegiatan tafaqquh akan berhasil jika kita belajar secara aktif dengan mengalami, berbuat dan memberikan kreasi (bismillah, semoga benar karena catatan pas bagian ini lagi acakadul, kemungkinan sambil ngantuk pas nulis @_@)

b. Semakin banyak ragam tentang materi maka semakin cepat dalam mempelajari dan menguasai.

c. Kegiatan tafaqquh akan berhasil jika kita memandang materi yang dipelajari sangat bermanfaat bagi kita

3. Meneguhkan motivasi

So, mari kita pandai-pandai memotivasi diri kita sendiri. Karena kita yang paling tahu tentang kondisi kita dan kebutuhan kita. Yakinlah semua yang terjadi bukan karena sesuatu yang kebetulan saja (kayak di sinetron-sinetron, hihi). Tapi semuanya ada campur tangan Allah (^_^)v. Dan Allah selalu menjadikan ladang hikmah dan pembelajaran di setiap kejadian. So, tetap semangat hadapi semuanya, ciaaaaaatttttt.

4. Menata waktu

Kata Hasan Al Banna “Al wajabat aktsaru minal auqat” yang artinya kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang kita miliki. Dn waktu itu ibarat pedang bermata 2, barangsiapa pandai memanfaatkannya maka dia adalah pendekar (lho? Emangnya Angling Dharma), dan barangsiapa tidak pandai menggunakannya bisa saja dia terlibas.

5. Mengulang-ulang pelajaran (muroja’ah)

Nah, yang satu ini nih perlu ditingkatkan, hafalan aja perlu di muroja’ah, begitu pula ilmu atau materi yang kita dapat, kalau tidak diulang-ulang bisa mengendap lho.

6. Menghilangkan penyebab lupa dan meningkatkan kemampuan mengingat

Jangan mengkambinghitamkan “lupa” sebagai alasan kita untuk tidak melakukan aktivitas ini dan itu. Kalau kata Pak Mario Teguh “Jangan suka mengatakan kita kan manusia, tempatnya salah dan lupa, tapi kan ada cara untuk mengingat (^_^)”.  Biar gak lupa makannya “DITULIS, DICATET”, entah berapa banyak ilmu yang kita lupakan karena kita tidak sempat mencatatnya.

Mungkin itu saja yang dapat saya sampaikan. Insyaallah masih akan terus diperbaiki sana-sini dan direvisi.

Semoga bermanfaat. To be continued…

Sumber: Syarah Lengkap Arba’in Tarbawiyah. Refleksi 40 Hadits Muwashofat Tarbiyah. Penulis: Fakhruddin Nursyam, LC. Penerbit Bina Insani Solo

Solo, 2 Ramadhan 1432 H

Kost Pembelajaran, Wisma QQ Tungga Dewi Lantai 2, di sepanjang Lorong Sujud 20:06 WIB

4 Tanggapan

  1. Maaf gak nyatat, klo lupabisa mampir lagi… Ramadhan saatnya meningkatkan ke-Taqwaan kepada Allah…

  2. nice words

Kesanmu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: