Menjemput RezekiNya…


Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

 

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

 

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur  tak akan kena sasaran

 

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

 

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa

jika di dalam hutan.

Imam Syafi’i

 

 

Saya pertama kali membaca kata mutiara tersebut dari novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi. Akhirnya saya pun cukup terpikat tentang inti dari kata mutiara ini, yaitu tentang merantau. Saya jadi ingat bahwa kedua orang tua saya bukanlah penduduk asli dari kota tempat saya lahir dan dibesarkan. Orang tua saya adalah perantau yang memulai karir-nya dari nol di kota kecil bagian barat dari Provinsi Jawa Timur, yaitu Ngawi. Sebagai orang rantau tentunya tidak mudah bagi kedua orang tua saya untuk menuju kesuksesan, butuh waktu cukup panjang dan jatuh bangun mencapai semuanya. Alhamdulillah sekarang setelah kurang lebih 30 tahun tinggal di kota kecil ini, kedua orang tua saya adalah termasuk perantau yang akhirnya sukses.

Jejak sebagai perantau ternyata diikuti pula oleh kakak saya satu-satunya. Allah memberikan rezeki pada kakak saya di pulau nan jauh yaitu di Nusa Tenggara Timur, dan lebih tepatnya lagi di Kupang. Mungkin memang awalnya berat bagi kedua orang tua saya melepas anak perempuan sulungnya di negeri orang. Namun, kekuatan dan semangat untuk menjemput rezeki dari Yang Maha Kaya akhirnya mengizinkan kakak saya untuk merantau di Kupang. Alhamdulillah, kakak saya mendapatkan komunitas yang baik dan bisa cepat bergaul dengan orang-orang di sana.

Lalu bagaimana dengan saya? Saya anak bungsu dan juga perempuan. Saya juga memiliki keinginan untuk merantau. Ingin mencicipi suatu tantangan, suasana baru dan orang-orang baru. Meskipun saya tidak dapat memungkiri bahwa kota Solo adalah kota dimana saya menemukan komunitas yang baik, nyaman, dan sangat terjaga. Tapi apakah harus melulu di Solo? Bagaimana aplikasi atas semua episode pembelajaran selama di Solo? Baik itu di bidang akademik, organisasi maupun tarbiyah?

Saya turut bangga terhadap teman-teman saya yang merantau, yang Alhamdulillah  Allah memudahkan mereka untuk menjemput rezekiNya dalam waktu yang cukup singkat pasca lulus kuliah. Bahkan Tatang Kukuh Wibawa (Direktur SIM UNS 2011) mendapat beasiswa ikatan dinas sebelum dia lulus kuliah. Pak Tatang (Pak: panggilan akrab) yang awalnya merantau di Jakarta lalu dipindah ke Medan. Kemudian menyusul Tri Hariyana (Sekjen SIM UNS 2011) yang selalu bertengkar dengan saya tak ada habisnya sampai berjilid-jilid, akhirnya  juga berkesempatan menjejakkan kaki, membangun masa depannya di ibukota. Setelah mereka berdua, lalu sahabat baik saya, teman ngaji, teman main, teman nongkrong, teman gaul saya, Syakiroh Fitriyati ternyata juga Allah membentangkan rezeki untuknya di Bogor.

 

Spesial untuk pak Tatang, om Te dan Syaki, selamat berjuang dan menemukan mozaik-mozaik hidup yang luar biasa dariNya dalam perjalanan dan pengabdian kalian di bumiNya. Jangan lupa untuk senantiasa bersyukur atas semua nikmat, tantangan dan kemudahan yang telah Dia berikan kepada kalian.

 

“Kita bekerja bukan untuk memenuhi obsesi pribadi, melainkan karena ibadah. Kita harus ikhlas menjalani seluruh amal baik. Proyek Allah akan dibiayai Allah, manusia hanya menjalankannya”

(KH. Hilmi Aminudin)

 

Semoga Allah  memperkenankan saya untuk mengabdikan ilmu yang telah Dia titipkan pada diri seorang Mega Dewana Putri

Dimanapun kau bentangkan rezekiMu untukku Ya Rabb…

Ngawi, 11 Januari 2012

20:29 WIB

 

 Sumber gambar klik DISINI

 

 

2 Tanggapan

  1. Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudra temoat banyak ciptaan-ciptaannNya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikanlah ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagia pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu; dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap cobaan – Ali bin Abi Thalib ra.

    Ini salah satu quote terfavorit aku di buku yang aku rekomendasikan ke kamu kemaren Mega – 99 Cahaya di Langit Eropa🙂

Kesanmu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: