Khadijah ra. Mimpi Memeluk Bintang


Khadijah sering mendengar penuturan sepupunya, Waraqah bin Naufal, tentang kisah para nabi dan agama. Pada suatu malam, ketika bintang-bintang seakan-akan enggan menampakkan dirinya dan gelap gulita menyelimuti dunia, Khadijah duduk di dalam rumahnya setelah thawaf beberapa putaran di sekeliling Ka’bah. Lalu, ia beranjak menuju peraduannya dengan rasa puas dan seuntai senyum yang menghiasi bibirnya. Ia tidak pernah tahu apa yang sebenarnya sedang tersembunyi di balik perasaannya itu.

Di dalam tidurnya, Khadijah bermimpi ada matahari besar yang turun perlahan dari langit kota Makkah dan berhetnti tepat di atas rumahnya. Seluruh sudut ruangan yang ada di rumahnya diterangi dengan sinar yang indah. Sinar itu memancar dan menerangi segala sesuatu yang ada di sekitarnya, sehingga menyenangkan hati sebelum menyenangkan mata setiap orang yang memandangnya.

Khadijah terkejut dan langsung terbangun. Pandangannya menyapu setiap sudut rumahnya, tapi ternyata malam masih menyelimutu bumi dengan pekat gulitanya dan menutupi segala yang ada di atasnya. Hanya saja, cahaya terang yang ia lihat begitu indah dalam mimpinya tetap memenuhi perasaannya dan memancar di dalam lubuk hatinya.

Besoknya, ketika malam sudah berganti pagi, Khadijah meninggalkan rumahnya dan bergegas menuju rumah sepupunya, waraqah bin Naufal. Ia berharap dapat menemukan penafsiran atas mimpi indah yang dialaminya malam tadi.

Khadijah langsung masuk ke rumah waraqah dan mendapatinya sedang membaca lembaran kitab suci yang sangat dia sukai dan selalu ia baca tiap pagi dan sore. Ketika ia mendengar suara Khadijah, Waraqah segera menyambutnya dengan berkata dengan sedikit rasa kaget, “Apakah itu Khadijah, sang wanita suci?” Khadijah menjawab, “Ya, benar.” Waraqah bertanya lagi, “Apa yang membuatmu datang ke sini sepagi ini?”
Khadijah duduk, lalu menceritakan apa yang dilihatnya dalam mimpi dengan pelan-pelan. Sedangkan waraqah mendengarkan dengan seksama, sehingga ia lupa dengan lembaran-lembaran kitab suci yang ada di tangannya. Waraqah merasakan ada suatu kekuatan yang menarik perasaannya, sehingga ia terus mendengarkan penuturan Khadijah tentang mimpinya hingga selesai.

Setelah mendengar penuturan Khadijah, roman wajah Waraqah menyiratkan rasa bahagia dan seuntai senyum menghiasi bibirnya seraya berkata pada Khadijah dengan suara yang tenang dan berwibawa, “Berbahagialah, wahai sepupuku. Seandainya Allah benar-benar membuat mimpimu menjadi kenyataan, maka cahaya kenabian akan masuk ke rumahmu. Dan darinya, akan terpancar risalah nabi terakhir.”

Sejak itu, Khadijah menjalani hari-harinya dengan penuh cita-cita dan diliputi semerbak mimpi yang dialaminya. Ia sangat berharap mimpinya menjadi kenyataan, menjadi sumber kebaikan bagi seluruh manusia, dan sumber cahaya yang menerangi dunia.

 

Sumber:

35 Sirah Shahabiyah

Mahmud Al-Mishri

Penerbit Al-I’Tishom

Kesanmu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: