KETIDAKSEIMBANGAN AKTIVITAS


Saya pernah mendapat materi ini ketika saya ngaji. Ternyata saya punya buku-nya, yaitu Tegar Di Jalan Dakwah karya Pak Cahyadi Takariawan. Buku ini bagus, meskipun saya belum sempat membacanya. Begitu saya membeli buku ini sekitar dua tahun lalu (2009), eh, langsung dipinjam sama salah satu mbak dan sama mbak tersebut dipinjamkan ke salah satu adik. Dan baru kembali ke tangan saya pada tanggal 11 Februari 2012. Dahsyat ya. Semoga yang meminjam bertambah ilmu-nya. Amin.🙂

Ketidakseimbangan aktivitas merupakan sub bab ke 2 dalam bab pertama yang mengawali buku Tegar Di Jalan Dakwah, yaitu Bab Problematika Internal Aktivis Dakwah. Meskipun saya bukan orang yang ahli dalam bidang ini, tapi izinkan saya untuk berbagi ilmu. Mengingat-ingat kembali, membuka memori saya tentang materi ini.  Bagi saya materi ini sangat menarik dan memang sesuai dengan realita yang ada termasuk pada kalangan kampus. Saya mencoba menyajikan dengan bahasa aslinya demi mempertahankan esensi  dari materi, namun ada beberapa yang saya tuliskan dengan kalimat saya sendiri agar mudah untuk dipahami.

Tawazun atau keseimbangan merupakan asas kehidupan. Tata kehidupan ini secara seluruh telah Allah ciptakan secara seimbang dan teratur. Jika terjadi ketidakseimbangan (‘adamu at-tawazun), pasti akan melahirkan ketidakbaikan. Untuk itulah, aktivitas dakwah harus berada dalam kondisi penjagaan segala aspeknya, sehingga dakwah akan berjalan dengan lancar.

Rasulullah saw.telah meletakkan manhaj yang seimbang dalam dakwah, agar umat Islam melangkah secara tepat di medan dakwah di mana pun dan kapan pun. Jejak dakwah beliau sarat dengan pelajaran yang berharga bagi kepentingan gerak dakwah para aktivis dakwah. Ada beberapa bentuk ketidakseimbangan yang bisa terjadi dalam kehidupan aktivis dakwah, diantaranya:

Ketidakseimbangan antara Aktivitas Ruhaniyah dengan Aktivitas Lapangan

Aktivitas ruhaniyah sangat vital bagi aktivis dakwah, karena hal tersebut sebagai bekal dan pondasi utama. Terjebak pada rutinitas dan berbagai kegiatan organisasi menyebabkan pelayanan diri tidak proporsional.

Akibat dari banyaknya kerja teknis tersebut adalah cepat lelah dan merasa jenuh. Aktivitas organisasi (aktivitas lapangan) dapat dinikmati oleh publik. Sedangkan aktivitas ruhaniyah? Bisa jadi, seorang aktivis yang sudah malang melintang di dunia per-dakwah-an, ketika melakukan evaluasi terhadap dirinya, ternyata ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali keterampilan teknis dalam manajemen personal dan organisasi. Jika berbicara tentang peningkatan iman dan takwa, ia tak mampu mengalkulasinya, karena ia lebih merasakan lelahnya daripada takwanya.

Allah member teguran kepada Bani Israil yang suka menyuruh orang lain tapi melalaikan dirinya sendiri. Firman Allah:

Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melalaikan (kewajiban) diri kamu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat); apakah kamu tidak berpikir? “

 (QS. Al Baqarah : 44)

Karakter dakwah Islam bukan hanya sekadar aktivitas yang mengajak orang lain kepada kebaikan. Lebih dari itu, para aktivis dakwah hendaknya pertama kali melakukan apa yang diserukannya. Firman Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa  yang kamu tak perbuat? Amat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan yang kamu sendiri tidak mengerjakan.”

( QS As Shaff:2-3)

Ibarat sebuah lilin yang ia menerangi apa saja yang berada di sekitarnya, namun dia malah menghancurkan dirinya sendiri. Para aktivis dakwah tidaklah seperti lilin yang menerangi umat, namun dirinya sendiri tak mendapat perhatian. Aktivis dakwah adalah cahaya yang menerangi umat, karena ia sendiri telah dan senantiasa bermandikan cahaya tersebut. Sebagaimana misi yang diemban Rasulullah saw., adalah cahaya yang menerangi (sirajan munira):

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutus kamu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pembei peringatan, dan untuk penyeru Agama Allah dengan seizin-Nya, dan untuk menjadi cahaya yang menerangi.” (QS Al Ahzab: 45-46)

Ketidakseimbangan antara Dakwah di Dalam dengan di Luar Rumah Tangga

Keluarga adalah salah satu pondasi dalam aktivitas dakwah. Untuk itu, perhatian terhadap perbaikan di dalam keluarga harus seimbang dengan perhatian terhadap perbaikan masyarakat dan Negara. Berbagai kisah di zaman kenabian memberikan gambaran yang kuat, bagaimana posisi keluarga dalam bangunan gerakan dakwah Islam.

Contoh saat Rasulullah saw., ditemui malaikat Jibril di gua Hira’, atas wahyu yang turun pertama kali. Peristiwa itu begitu mengguncangkan hati dan pikiran beliau. Yang beliau lakukan adalah segera pulang dan bertemu isterinya. Betapa kelembutan Khadijah membuat tenang hati beliau.

Kita juga menyaksikan orang-orang yang mula pertama beriman adalah dari lingkungan keluarga Rasulullah saw.sendiri. sesibuk apa pun kegiatan para aktivis dakwah di luar rumah, tidak boleh mengabaikan dakwah di dalam rumah mereka. Apabila gejala ketidakseimbangan ini terjadi akan memunculkan korban-korban atas nama dakwah yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak. Gerakan dakwah tidak pernah memilahkan antara urgensi  dakwah dalam dan di luar rumah tangga.

Ketidakseimbangan antara Aktivitas Pribadi dengan Organisasi

Pada point ini saya mencoba mengungkapkan dengan realita yang saya temui. Ini dia yang sering kita jumpai pada kalangan aktivis dakwah kampus. Mereka begitu bersemangat dalam melakukan kegiatan organisasi. Syuro’ sana sini. Menjadi angkatan 66. Berangkat jam 6 pagi, pulang jam 6 sore. Bahkan juga teman-teman yang di Solo menjadi ahli syuro’ wal mobat-mabit. Saya sering menemui beberapa teman saya (akhwat) yang jadwal dalam 1 minggunya itu penuh dengan mabit. Jadinya kost adalah tempat singgah saja. Padahal adik-adik yang di kost juga butuh pembinaan🙂.

Kalau soal organisasi mereka memang ahlinya. Namun, yang kadang membuat “risih” adalah sebagian dari mereka melalaikan kuliah. Ini realita. Saya menemui kakak tingkat yang sangat “aktivis” tapi jarang terlihat ketika kuliah. Sering telat mengumpulkan tugas. Inilah membuat nilai minus yang dilihat oleh teman-teman ammah. Pernah suatu saat ada teman cowok yang bertanya pada saya “Eh, yang namanya mbak XXXXXX itu, yang penampilannya kayak kamu (jilbab lebar) itu gak pernah masuk kuliah sama sekali loh, padahal bentar lagi ujian.” Atau ketika saya menghadap dosen untuk suatu keperluan, ternyata dosen tersebut sedang menelpon kakak tingkat saya, yang saya begitu kenal namanya (aktivis). Beliau berkata pada saya bahwa kakak tingkat saya itu jarang konsul, jarang nongol, padahal sudah sering dihubungi oleh beliau. Hemmmm.

Contoh lain adalah saya begitu “terkejut” melihat ada salah satu adik tingkat, karena kecapekan mabit maka dia pagi sampai siang bolos kuliah. Tapi sore pas ada jadwal syuro dia langsung berangkat. Wow.

Ada lagi ketika adik tingkat saya berkata “Alhamdulillah amanah di organisasi sudah selesai, sekarang fokus amanah berikutnya yaitu penelitian dan skripsi”. What? Amanah selanjutnya?

Saya pernah mengikuti kajian yang diisi oleh salah seorang Ustadzah, dosen di Fakultas Hukum. Beliau mengatakan bahwa amanah (organisasi) dan kuliah itu bukan pilihan. Tapi keduanya adalah kewajiban. Jangan sekali-kali membuat pilihan pada keduanya. Mungkin sering ada salah memahamkan oleh mbak-mbaknya. “Ayo dhek, ikut syuro’ ikut mabit, kalau kita menolong agama Allah pasti Allah akan menolong kita,” kata mbak-mbak yang membujuk adiknya ikut syuro’ atau mabit, padahal adiknya izin mau belajar karena besok ada ujian. Saya percaya pada QS Muhammad ayat 7 tersebut, dan salut akan militansi mbak-mbaknya yang begitu luar biasa, tapi kita tetap harus berikhtiar bukan?

Ustadzah tersebut juga menceritakan tentang aktivis yang begitu betah di kampus, dan ketika ditanya, si aktivis menjawab, “Saya masih dibutuhkan di kampus bu, belum ada yang bisa menggantikan saya,” dalih si aktivis tersebut. Bagaimana dengan alur kaderisasinya?

Aktivitas pribadi seperti aktivitas akademik tersebut harus ditunaikan dengan baik, karena tidak akan diambil alih oleh organisasi. Sebagai pencitraan yang positif bagi semua kalangan masyarakat. Bahwa aktivis pun bisa berprestasi.

Ketidakseimbangan antara Amal Tarbawi dengan Amal Siyasi

Amal tarbawi (kegiatan pembinaan) adalah pondasi bagi seluruh aktivitas kehidupan, termasuk di dalamnya amal siyasi (kegiatan politik). Bagi gerakan dakwah yang telah memulai langkah politik, amal siyasi adalah keharusan. Namun perlu perhatian yang serius dari para aktivis, bahwa amal siyasi itu memiliki kecenderungan menguras semua potensi. Apalagi ketika menghadapi momentum besar seperti pemilihan umum legislatif, pilihan presiden, atau pilihan kepala daerah.

Para aktivis yang mendapatkan amanah sebagai pengurus partai politik atau pejabat publik, harus pandai mengelola keseimbangan dengan aktivitas tarbiyahnya agar potensi dirinya tidak tersedot habis ke dalam kegiatan politik praktis. Sebaliknya, jangan karena mempertahankan amal tarbawi, sampai amal siyasi ditelantarkan. Karena amal siyasi adalah bagian dari tuntutan tahapan dakwah saat memasuki perjuangan politik. Tanpa amal siyasi maka bangunan amal tarbawi tidak menunjukkan produktivitas karena hanya menunaikan kegiatan internal tanpa ekspansi keluar.

Ketidakseimbangan antara Perhatian terhadap Aspek Kualitas dengan Kuantitas SDM

Para aktivis dakwah bisa terjebak dalam perhatian yang sangat dominan terhadap aspek kualitas, sampai tidak memiliki perhatian terhadap kuantitas, ataupun sebaliknya. Aktivis harus mampu meletakkan secara proporsional kebutuhan akan kualitas personal, namun juga kebutuhan akan jumlah kekuatan yang harus disediakan dalam rangka memenangkan dakwah. Gerakan dakwah tidak akan efektif menunaikan kegiatan menuju cita-cita perjuangan, jika hanya berbekal sedikit personal kendati militan. Sebaliknya pun tidak akan mencapai kemenangan hakiki jika memiliki jumlah personal yang banyak namun tidak diimbangi dengan kualitas yang diharapkan.

Ketidakseimbangan dalam memberikan perhatian terhadap aspek kualitas dan kuantitas akan menyebabkan  gerakan dakwah tidak berjalan dengan optimal. Ada sisi yang kosong dan cenderung membahayakan saat dibiarkan tanpa perbaikan. Baik kualitas maupun kuantitas sangat diperlukan guna mencapai kemenangan dakwah Islam.

 

Alhamdulillah. Itu tadi sedikit tentang ketidakseimbangan. Semoga bermanfaat. Untuk lebih lengkapnya silahkan dibaca di buku Tegar di Jalan Dakwah karya Pak Cahyadi Takariawan , penerbit Era Intermedia. Untuk poin kedua Ketidakseimbangan antara Dakwah di Dalam dengan di Luar Rumah Tangga, bisa juga membaca kisah aktivis dakwah pada buku Tarbiyah Madal Hayah karya Asri Widiarti, penerbitnya juga Era Intermedia🙂. 

 

Kesanmu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: